IHSG Turun 11,57% Menjadi 5.185, Big Caps Mengalami Penurunan Signifikan

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami penurunan yang signifikan pada sesi kedua perdagangan pada hari Jumat, 16 Oktober 2026. IHSG jatuh 678,67 poin atau setara dengan 11,57 persen, menembus level 5.185,11. Berdasarkan data dari D’Origin, pergerakan IHSG berada dalam rentang antara 5.185,11 hingga 5.863,78. Penurunan yang tajam ini menunjukkan adanya tekanan jual yang meluas di pasar saham domestik, menciptakan kekhawatiran di kalangan investor.
Penyebab Tekanan Jual di Pasar Saham
Penurunan IHSG yang tajam ini tidak terlepas dari sejumlah faktor yang mempengaruhi sentimen pasar. Pada hari tersebut, hampir seluruh saham terdaftar berada dalam zona merah, dengan 775 saham mengalami penurunan, sementara hanya 10 saham yang mengalami penguatan. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan jual telah melanda berbagai sektor, khususnya yang berkapitalisasi besar.
Data Perdagangan yang Mengkhawatirkan
Nilai transaksi pada hari itu tercatat mencapai Rp31,91 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 674,71 juta lot. Transaksi negosiasi berkontribusi sekitar Rp5,41 triliun terhadap total transaksi. Angka-angka ini menunjukkan tingginya aktivitas jual beli, meskipun dalam kondisi pasar yang negatif.
Indeks Sektoral Mengalami Penurunan
Seluruh delapan indeks sektoral yang ada juga mencatatkan penurunan. Indeks IDX30 mengalami penurunan sebesar 13,73 persen, turun ke level 283,66, sementara indeks LQ45 menyusut sebesar 13,82 persen menjadi 508,56. Indeks IDX80 dan IDX High Dividend 20 juga mengalami penurunan masing-masing sebesar 13,59 persen dan 13,33 persen. Sektor keuangan menjadi yang paling terdampak dengan nilai transaksi terbesar mencapai Rp17,99 triliun dan penurunan sebesar 8,98 persen.
- Sektor energi: turun 11,39 persen dengan nilai transaksi Rp3,39 triliun.
- Sektor infrastruktur: melemah 13 persen, nilai transaksi Rp2,70 triliun.
- Sektor barang baku: turun 13,37 persen, nilai transaksi Rp2,63 triliun.
- Sektor industri: terkoreksi 11,89 persen dengan transaksi Rp1,03 triliun.
- Sektor teknologi: turun 8,88 persen, nilai transaksi Rp1,16 triliun.
Performa Saham Big Caps
Saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) juga menunjukkan penurunan yang signifikan. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat pada harga Rp5.175, tergerus 14,81 persen. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 14,84 persen menjadi Rp2.640. Selain itu, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga mengalami penurunan yang cukup tajam, masing-masing 14,82 persen dan 14,80 persen.
Volume Perdagangan Saham
Dalam hal volume perdagangan, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi yang paling aktif diperdagangkan dengan total volume mencapai sekitar 426,58 juta lot. BBCA menyusul dengan 12,41 juta lot, BBRI sebanyak 11,94 juta lot, dan TLKM dengan 9,64 juta lot. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga terlihat ramai diperdagangkan dengan volume 9,10 juta lot.
Pasar Valuta Asing juga Tertekan
Di pasar valuta asing, rupiah bergerak di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Data yang dihimpun menunjukkan kurs JISDOR berada pada level Rp17.948 hingga Rp18.052, sedangkan kurs spot berada di kisaran Rp18.035 hingga Rp18.000. Kelemahan rupiah ini turut mencerminkan ketidakpastian yang melanda pasar.
Proyeksi untuk IHSG
Melihat pergerakan IHSG yang mengalami koreksi tajam, D’Origin memproyeksikan level support IHSG akan berada di 5.175 dan 5.150, sementara level resistance diperkirakan berada di kisaran 5.200 dan 5.225. Level-level ini menjadi fokus bagi investor untuk memantau pergerakan pasar selanjutnya.
Saham-Saham yang Masih Tahan Banting
Meskipun pasar secara keseluruhan mengalami tekanan, beberapa saham masih mampu mencatatkan peningkatan harga. Saham BSWD dan XCLQ masing-masing mencatatkan kenaikan 25 persen, mencapai level Rp5.625 dan Rp90. Selain itu, saham ABDA naik 24,93 persen menjadi Rp4.710, dan TRUK menguat 24,81 persen ke Rp3.220.
- BSWD: +25% ke Rp5.625
- XCLQ: +25% ke Rp90
- ABDA: +24,93% ke Rp4.710
- TRUK: +24,81% ke Rp3.220
- CBPE: +24,75% ke Rp630
Risiko di Tengah Ketidakpastian Pasar
Namun, di tengah pelemahan yang terjadi, ada juga sejumlah saham yang mencatatkan penurunan hingga 15 persen. Saham-saham seperti APIC, BBKP, BELI, BFIN, BHIT, BLTZ, dan BMAS masing-masing mengalami penurunan signifikan, mencerminkan betapa rentannya pasar saat ini.
Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, investor diharapkan untuk tetap waspada dan cermat dalam mengambil keputusan investasi. Memantau pergerakan IHSG serta faktor-faktor yang mempengaruhi pasar menjadi sangat penting untuk mengantisipasi potensi risiko yang bisa terjadi di masa mendatang.
➡️ Baca Juga: Suahasil Nazara Memimpin Kebijakan Fiskal Baru, Pasar Menanti Konsistensi Strategi Ekonomi
➡️ Baca Juga: Ketua DPRD Provinsi Lampung Hadiri dan Beri Sambutan dalam Penyerahan LHP BPK RI: Optimasi SEO untuk Peringkat Google




