Warga Bertato Diperbolehkan Masuk TNI Berdasarkan Tradisi Budaya yang Diterima

Jakarta – Dalam perkembangan terbaru, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengumumkan bahwa individu yang memiliki tato yang berasal dari tradisi budaya diperbolehkan untuk mendaftar sebagai anggota TNI. Pernyataan ini menegaskan bahwa kebijakan tersebut sebenarnya telah ada sejak lama dan tidak menjadi masalah bagi institusi militer.
Pengakuan terhadap Tradisi Budaya
Jenderal Maruli menegaskan bahwa TNI tidak memandang tato sebagai halangan bagi calon prajurit yang mengadopsi tato sebagai bagian dari budaya adat mereka. Pernyataan ini muncul sebagai respon terhadap perwakilan Suku Dayak se-Kalimantan yang melakukan audiensi dengan Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini.
Sejarah Kebijakan Tato dalam TNI
“Sebenarnya, dari dulu juga sudah diperbolehkan. Tidak ada masalah selama tato tersebut merupakan bagian dari tradisi,” jelas Maruli setelah melakukan rapat dengan Komisi I DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, pada Senin (31/8). Ini menunjukkan bahwa TNI berkomitmen untuk mempertimbangkan nilai-nilai budaya dalam proses rekrutmen mereka.
Kesempatan bagi Warga Bertato
Meskipun demikian, Jenderal Maruli mengakui bahwa pihaknya belum mengetahui adanya warga bertato yang telah mendaftar sebagai calon prajurit TNI. Ia memastikan akan mencari informasi lebih lanjut mengenai individu-individu yang memiliki tato yang berkaitan dengan tradisi, termasuk di kalangan Suku Dayak yang ingin bergabung dengan TNI.
Menarik Minat Calon Prajurit
“Tidak semua anggota Suku Dayak memiliki tato, jadi sebenarnya tidak ada masalah. Kami akan mencari tahu lebih lanjut tentang minat mereka untuk bergabung,” ungkapnya. Ini menunjukkan keterbukaan TNI terhadap keragaman budaya yang ada di Indonesia dan keinginan untuk mengakomodasi calon prajurit dari berbagai latar belakang.
Upaya TNI untuk Mewakili Beragam Suku
Jenderal Maruli juga menegaskan bahwa TNI menyambut baik kehadiran prajurit yang berasal dari berbagai daerah dan suku di Indonesia. Ia menyatakan bahwa saat ini, TNI tengah berupaya untuk menambah jumlah personel, sehingga keterwakilan dari setiap etnis dan budaya menjadi semakin penting.
Pertemuan dengan Perwakilan Suku Dayak
Sebelumnya, akun Instagram @sekretariat.kabinet mengunggah foto yang menunjukkan Presiden Prabowo Subianto menerima Panglima Jilah, pemimpin besar Suku Dayak se-Kalimantan, di Istana Merdeka, Jakarta, pada Jumat, 28 Agustus 2026. Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam dialog antara pemerintah dan masyarakat adat.
Permohonan Masyarakat Dayak
Dalam pertemuan tersebut, perwakilan masyarakat Dayak mengajukan beberapa permohonan kepada pemerintah. Mereka meminta agar pemerintah memperhatikan pembangunan infrastruktur, seperti jalan di daerah pedalaman, termasuk wilayah Sanggau dan sekitarnya. Permohonan ini mencerminkan kebutuhan mendesak akan aksesibilitas di daerah tersebut.
Pendidikan dan Pembangunan Rumah Adat
Selain infrastruktur, mereka juga meminta agar pemerintah mendirikan Sekolah Rakyat dan menyediakan beasiswa di berbagai wilayah yang memiliki nilai-nilai adat Dayak. Saat ini, dua Sekolah Rakyat telah dibangun di Kalimantan Barat sebagai bagian dari upaya tersebut.
- Pembangunan jalan di daerah pedalaman
- Pendirian Sekolah Rakyat
- Penyediaan beasiswa untuk masyarakat adat
- Pembangunan rumah adat Dayak
- Kesempatan untuk bergabung dengan TNI-Polri bagi warga bertato
Komitmen TNI terhadap Kebudayaan
Permohonan terakhir yang disampaikan oleh masyarakat Dayak adalah agar warga yang memiliki tato, yang merupakan bagian dari adat dan tradisi mereka, tetap diperbolehkan untuk bergabung menjadi anggota TNI-Polri. Hal ini menunjukkan komitmen TNI untuk menghargai dan mengakomodasi nilai-nilai budaya lokal dalam struktur militer.
Pentingnya Keterwakilan Budaya
Pengakuan terhadap keberadaan tato sebagai simbol budaya menunjukkan bahwa TNI berusaha untuk menciptakan lingkungan yang inklusif. Dengan menerima warga bertato, TNI tidak hanya memperluas basis rekrutmen, tetapi juga menciptakan citra yang lebih positif di masyarakat.
Proses Rekrutmen TNI yang Inklusif
Dengan kebijakan yang lebih terbuka terhadap keberagaman, TNI berharap dapat menarik lebih banyak individu yang memiliki latar belakang budaya yang kaya. Hal ini dapat memperkuat ikatan antara militer dan masyarakat, serta meningkatkan rasa saling percaya dan dukungan.
Menjaga Keberagaman dalam Angkatan Bersenjata
Keterlibatan anggota dari beragam suku dan budaya di TNI akan memperkaya pengalaman dan perspektif dalam menjalankan tugas. Ini penting untuk memastikan bahwa TNI dapat beroperasi dengan efektif di seluruh wilayah Indonesia yang kaya akan keragaman.
Kesimpulan
Dengan adanya kebijakan yang mengizinkan warga bertato untuk bergabung dengan TNI, institusi militer menunjukkan komitmennya untuk menghormati dan mengakomodasi nilai-nilai budaya. Ini adalah langkah positif menuju inklusi dalam struktur pertahanan negara, dan diharapkan dapat menarik lebih banyak calon prajurit dari berbagai suku dan latar belakang budaya di Indonesia.
➡️ Baca Juga: Hacker Iran Berhasil Membobol Email Pribadi Direktur FBI Kash Patel
➡️ Baca Juga: BRI Regional Office 9 Bandung Kolaborasi dengan Yayasan dan Pesantren Salurkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat



