PLN Tingkatkan Energi Surya di Bali, Fokus pada Penghematan Impor BBM

Bali, sebagai salah satu destinasi pariwisata terkemuka, kini mengambil langkah signifikan menuju keberlanjutan energi dengan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). PT PLN (Persero) berkomitmen untuk meningkatkan pemanfaatan energi surya di pulau ini dengan kapasitas mencapai 1.000 megawatt peak (MWp) dan dilengkapi dengan sistem penyimpanan energi berbasis baterai (BESS) berkapasitas 3,3 gigawatt hour (GWh). Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) impor, yang selama ini menjadi beban bagi ekonomi dan lingkungan.
Transformasi Energi di Bali
Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, menegaskan bahwa dengan peluncuran proyek PLTS Gilimanuk, sistem kelistrikan di Bali akan mengalami perubahan signifikan. “Program PLTS ini akan mengalihkan penggunaan BBM impor menjadi energi yang dihasilkan secara domestik,” ungkapnya saat acara peluncuran di Jembrana, Bali.
Peralihan dari energi mahal ke energi yang lebih terjangkau serta dari sumber energi fosil ke energi baru terbarukan merupakan langkah penting dalam mencapai tujuan energi bersih. “Dengan ini, kita tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, tetapi juga menawarkan solusi yang lebih ekonomis bagi masyarakat,” tambahnya.
Keunggulan Teknologi BESS
Darmawan juga menjelaskan bahwa salah satu keunggulan utama proyek ini adalah integrasi sistem penyimpanan baterai yang canggih. Teknologi BESS memungkinkan energi matahari yang dihasilkan pada siang hari, khususnya antara pukul 10.00 hingga 14.00 WITA, untuk disimpan dan digunakan pada malam hari. Hal ini akan mengoptimalkan pemanfaatan energi dan mengurangi kebutuhan BBM, terutama pada sore dan malam hari ketika konsumsi energi meningkat.
Penggantian Konsumsi BBM
“Dengan sistem BESS ini, konsumsi BBM yang biasanya tinggi pada malam hari bisa diatasi dengan menggunakan energi yang disimpan dari PLTS,” jelas Darmawan. Ini menjadi solusi nyata untuk mengurangi dampak lingkungan yang dihasilkan dari penggunaan bahan bakar fosil.
Distribusi Energi yang Efisien
PLN memastikan bahwa seluruh daya listrik yang dihasilkan oleh PLTS di Bali bagian barat ini akan disalurkan melalui jaringan transmisi tegangan tinggi 150 kilovolt (kV). Jaringan ini dirancang untuk menjangkau berbagai wilayah di Pulau Bali, termasuk Denpasar, Nusa Dua, Kuta, hingga Sanur.
“PLTS ini langsung terhubung dengan jaringan transmisi 150 kV, yang memungkinkan distribusi listrik dari Jembrana ke seluruh pelosok Bali,” tuturnya. Dengan infrastruktur yang baik, PLN berharap dapat memenuhi kebutuhan energi masyarakat dengan lebih efektif.
Potensi Ekonomi dan Pembangunan Berkelanjutan
PLN juga menilai bahwa saat ini potensi dari PLTS Gilimanuk belum sepenuhnya dimanfaatkan, mengingat proyek ini masih dalam tahap awal pengembangan. Ketika kapasitasnya mencapai 300 MWp, lahan seluas 320 hektare tersebut diharapkan dapat menciptakan banyak lapangan kerja bagi masyarakat setempat.
“Kami berkomitmen untuk mempercepat pengembangan energi surya di Indonesia, yang ditargetkan mencapai 100 gigawatt peak (GWp) sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Kami percaya, kolaborasi antar lembaga, termasuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Kehutanan, serta Kementerian Agraria dan Tata Ruang, akan mempercepat pencapaian ini,” jelasnya lebih lanjut.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Dalam konteks ini, PLN tidak hanya fokus pada pengembangan energi, tetapi juga pada dampak sosial dan ekonomi yang akan dihasilkan. “Kami yakin bahwa dengan mempercepat pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan memerangi kemiskinan, bangsa kita akan semakin maju,” tegas Darmawan.
Dukungan dari Pemerintah Daerah
Gubernur Bali, Wayan Koster, juga memberikan dukungannya terhadap inisiatif PLN dan pemerintah pusat. Menurutnya, langkah ini sangat sejalan dengan Pergub Bali Nomor 45 Tahun 2019 yang menekankan pentingnya energi bersih dan mandiri. “Inisiatif ini tidak hanya akan mengurangi penggunaan BBM secara signifikan, tetapi juga akan meningkatkan citra pariwisata Bali di mata dunia,” ujarnya.
Manfaat bagi Pariwisata Bali
Koster menambahkan bahwa manfaat dari PLTS ini tidak hanya sebatas pemenuhan kebutuhan energi. “Dengan mengurangi ketergantungan pada BBM yang mencapai 500.000 kiloliter, kita bisa menghentikan impor BBM dan menurunkan biaya energi secara signifikan,” jelasnya. Hal ini diyakini akan berkontribusi pada pengembangan pariwisata yang lebih berkelanjutan di Bali.
Rencana Masa Depan untuk Energi Surya di Bali
Ke depan, PLN berencana untuk terus berinovasi dan mengembangkan lebih banyak proyek energi terbarukan di Bali. Dengan dukungan dari pemerintah dan kolaborasi berbagai pihak, PLN yakin dapat mempercepat transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan.
Inisiatif ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga tentang menciptakan masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan untuk generasi mendatang. Dengan penggunaan energi surya yang optimal, Bali dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam pengembangan energi terbarukan.
- Pembangunan PLTS berkapasitas hingga 1.000 MWp.
- Integrasi BESS untuk penyimpanan energi yang efisien.
- Pengurangan ketergantungan pada BBM impor.
- Peningkatan lapangan kerja untuk masyarakat lokal.
- Dukungan dari pemerintah daerah untuk energi bersih.
➡️ Baca Juga: Perbandingan Pajak Mobil Listrik 2026: Denza D9 dan Toyota Alphard dalam Fokus
➡️ Baca Juga: Makanan yang Harus Dihindari Penderita Asam Lambung untuk Mencegah Kambuh Sering




