Pemkot Mataram Alokasikan Rp44 Miliar untuk Program Penanganan Stunting

Peningkatan kesadaran akan pentingnya kesehatan anak, terutama dalam mencegah stunting, semakin dirasakan di berbagai daerah, termasuk di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Dengan angka stunting yang masih mengkhawatirkan, Pemerintah Kota Mataram mengambil langkah tegas dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp44 miliar untuk program penanganan stunting. Program ini tidak hanya bertujuan untuk menurunkan angka stunting, tetapi juga untuk mencapai target nol kasus stunting pada tahun 2026. Di tengah tantangan yang ada, upaya ini menunjukkan komitmen Pemkot Mataram dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya anak-anak.
Komitmen Pemkot Mataram dalam Penanganan Stunting
Sekretaris Daerah Kota Mataram, Lalu Alwan Basri, menegaskan bahwa alokasi anggaran yang signifikan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam merespons masalah stunting yang masih menjadi tantangan serius di wilayah tersebut. Dalam sebuah pernyataan, beliau menyebutkan bahwa program penanganan stunting yang dirancang akan dilakukan secara terpadu dan komprehensif, melibatkan berbagai pihak untuk mencapai hasil yang maksimal.
Strategi Terpadu untuk Mengatasi Stunting
Dalam rangka mencapai target nol stunting pada tahun 2026, Pemkot Mataram menerapkan pendekatan yang melibatkan banyak sektor. Program penanganan stunting ini tidak hanya berfokus pada kesehatan anak, tetapi juga mempertimbangkan faktor-faktor sosial ekonomi yang berkontribusi terhadap masalah ini.
- Kolaborasi dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Pengendalian Penduduk
- Kerja sama dengan PKK dan organisasi wanita
- Partisipasi semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD)
- Dukungan dari pihak eksternal melalui dana CSR
- Pemberdayaan masyarakat dalam upaya penanganan stunting
Data dan Fakta Stunting di Mataram
Berdasarkan data terbaru dari Dinas Kesehatan Kota Mataram, angka stunting di kota ini tercatat sebesar 5,53 persen, yang setara dengan sekitar 1.204 balita. Angka ini menunjukkan adanya penurunan yang signifikan, di mana pada awal tahun 2026, diharapkan tidak akan ada kasus baru yang muncul.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, Emirald Isfihan, juga menegaskan bahwa tren penanganan stunting berada di jalur positif. Ia menolak kabar mengenai adanya lonjakan kasus yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan, dengan menyatakan bahwa pemantauan di seluruh puskesmas menunjukkan data yang konsisten.
Upaya Preventif dalam Penanganan Stunting
Untuk mencegah munculnya kasus stunting baru, Dinas Kesehatan telah memperketat pengawasan, terutama sejak masa kehamilan. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan menyediakan layanan USG gratis di seluruh puskesmas, serta mewajibkan persalinan dilakukan di fasilitas kesehatan.
Langkah-langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap bayi menerima perawatan medis yang tepat sejak lahir, sehingga risiko stunting dapat dideteksi dan ditangani lebih awal.
- Penyediaan layanan USG gratis untuk ibu hamil
- Persalinan yang harus dilakukan di fasilitas kesehatan
- Peningkatan akses terhadap layanan kesehatan
- Pelatihan bagi petugas kesehatan dalam penanganan stunting
- Pemberian informasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai stunting
Peran Masyarakat dalam Penanganan Stunting
Pemkot Mataram menyadari bahwa penanganan stunting bukanlah tugas pemerintah semata, melainkan memerlukan keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat. Oleh karena itu, program ini juga melibatkan berbagai organisasi masyarakat, termasuk organisasi wanita dan lembaga profesi.
Dengan melibatkan masyarakat dalam program penanganan stunting, diharapkan akan tercipta kesadaran kolektif mengenai pentingnya kesehatan anak dan pencegahan stunting. Ini juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berkontribusi langsung dalam upaya meningkatkan kualitas hidup anak-anak di Kota Mataram.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Hasil Maksimal
Melalui kolaborasi lintas sektor yang kuat, Pemkot Mataram optimis bahwa program penanganan stunting dan kemiskinan dapat berjalan dengan baik. Stunting dan kemiskinan memiliki hubungan yang erat, sehingga penanganan keduanya harus dilakukan secara bersamaan. Dengan dukungan berbagai pihak, termasuk BUMN, Baznas, serta lembaga profesi seperti Ikatan Notaris dan IDI, diharapkan upaya ini dapat memberikan dampak yang signifikan.
Kesimpulan
Pemkot Mataram menunjukkan komitmen yang kuat dalam menangani masalah stunting melalui alokasi anggaran yang besar dan pendekatan terpadu. Dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, program penanganan stunting diharapkan dapat mencapai target nol stunting pada tahun 2026. Melihat tren positif yang ada, serta dukungan dari berbagai pihak, optimisme akan tercapainya tujuan ini semakin menguat. Hal ini menjadi harapan bagi masyarakat, khususnya bagi anak-anak di Kota Mataram, agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.
➡️ Baca Juga: Hyundai Tetap Berkomitmen pada Kualitas Meski Terdapat Mobil ‘Murah’ di Pasaran
➡️ Baca Juga: Kode Redeem FF Terbaru 21 Maret 2026, Klaim Bundle dan Skin Premium Gratis




