Luas Karhutla di Sumsel Turun 88 Persen Selama Tiga Tahun Terakhir, Menurut BNPB

Dalam beberapa tahun terakhir, isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, khususnya di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), menjadi perhatian serius. Namun, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa terdapat tren positif dengan penurunan luas karhutla yang mencapai lebih dari 88 persen dalam tiga tahun terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa langkah-langkah mitigasi yang diambil mulai membuahkan hasil, meski tantangan tetap ada. Artikel ini akan membahas lebih dalam mengenai penurunan luas karhutla di Sumsel, faktor-faktor yang mempengaruhi, serta langkah-langkah yang diambil untuk menangani masalah ini.
Tren Penurunan Luas Karhutla di Sumsel
Menurut keterangan dari Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, perkembangan positif dalam penanganan karhutla di Sumsel adalah hasil dari berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Dalam tiga tahun terakhir, penurunan luas area yang terbakar menunjukkan angka yang signifikan. Data menunjukkan bahwa luas karhutla di Sumsel menurun dari 264.165,68 hektare pada tahun 2023 menjadi 30.844,96 hektare pada tahun 2024, dan kembali berkurang menjadi 11.879,56 hektare pada tahun 2025.
Faktor Penyebab Penurunan
Penurunan luas karhutla di Sumsel tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor kunci yang berkontribusi terhadap pencapaian ini:
- Sistem Peringatan Dini: Penerapan sistem peringatan dini yang efektif telah membantu pihak berwenang untuk lebih cepat dalam merespons kebakaran.
- Respons Tim Satgas: Tim Satgas Karhutla yang terlatih dan responsif berperan penting dalam penanganan kebakaran.
- Kolaborasi Lintas Sektor: Kerja sama antara berbagai instansi, termasuk pemerintah daerah, organisasi non-pemerintah, dan masyarakat, memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan.
- Pendidikan Masyarakat: Sosialisasi mengenai bahaya pembakaran lahan dan pentingnya menjaga lingkungan juga turut mendukung pengurangan kebakaran.
- Teknologi Pemantauan: Penggunaan teknologi untuk memantau dan mendeteksi titik api secara dini membantu dalam pencegahan kebakaran.
Operasi Penanganan Karhutla
Memasuki musim kemarau yang dipengaruhi oleh fenomena El Nino, BNPB bersama dengan Satgas Karhutla Sumsel terus meningkatkan upaya penanganan. Hingga akhir Agustus 2026, sisa area yang terbakar tercatat hanya 67,06 hektare. Tim gabungan yang terdiri dari berbagai elemen telah melaksanakan operasi darat dan udara untuk mengatasi masalah ini.
Strategi Pemadaman
Dalam operasi yang berlangsung, tim mampu memadamkan lahan seluas 18,36 hektare. Fokus utama saat ini adalah pada proses pendinginan sisa area seluas 48,7 hektare, terutama di daerah dengan gambut tebal seperti Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Musi Banyuasin (Muba). Pendekatan ini sangat penting untuk mencegah kebakaran meluas kembali.
Personel dan Dukungan Operasional
Untuk mendukung penanganan di lapangan, BNPB telah menyiagakan 11.567 personel gabungan. Dukungan ini juga mencakup penyaluran bantuan sarana operasional kepada tujuh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat kabupaten dan kota. Selain itu, sembilan unit armada udara telah dikerahkan untuk melakukan patroli, water bombing, dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang bertujuan untuk mengurangi potensi kebakaran.
Pentingnya Kesadaran Masyarakat
Meskipun secara umum situasi karhutla di Sumsel terkendali, BNPB tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap penurunan kualitas udara akibat asap. Beberapa waktu lalu, kualitas udara di Kota Palembang sempat menyentuh kategori sangat tidak sehat, yang memerlukan perhatian ekstra dari warga untuk menggunakan masker medis dan menghindari praktik pembakaran lahan.
Dampak Kualitas Udara
Kondisi kualitas udara yang buruk akibat penumpukan asap dapat berdampak negatif bagi kesehatan masyarakat. Pada 30 Agustus 2026, stasiun pemantau kualitas udara di Kota Palembang mencatat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU/AQI) berada pada angka 247, yang masuk dalam kategori sangat tidak sehat. Hal ini menunjukkan urgensi untuk menjaga kualitas udara dan mengedukasi masyarakat mengenai dampak dari kebakaran hutan dan lahan.
Langkah-Langkah Selanjutnya
Keberhasilan dalam menurunkan luas karhutla di Sumsel adalah langkah awal yang baik, namun tantangan ke depan tetap ada. Diperlukan upaya berkesinambungan untuk menjaga kondisi ini agar tidak kembali memburuk. Beberapa langkah yang perlu dipertimbangkan antara lain:
- Peningkatan Kapasitas Tim: Melatih lebih banyak personel untuk menangani kebakaran hutan dan lahan secara efektif.
- Penerapan Teknologi Modern: Mengadopsi teknologi terbaru dalam pemantauan dan penanganan kebakaran.
- Program Edukasi Berkelanjutan: Mengedukasi masyarakat tentang bahaya kebakaran dan pentingnya menjaga lingkungan.
- Koordinasi yang Lebih Baik: Memperkuat koordinasi antara berbagai pihak dalam penanganan kebakaran.
- Monitoring Kualitas Udara: Meningkatkan sistem pemantauan kualitas udara untuk memberikan informasi lebih cepat kepada masyarakat.
Pencapaian dalam penurunan luas karhutla di Sumsel menjadi contoh positif bagi daerah lain di Indonesia. Dengan sinergi dan komitmen yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait, diharapkan masalah karhutla dapat diminimalkan di masa depan. Masyarakat juga diharapkan untuk tetap berperan aktif dalam menjaga lingkungan, sehingga kebakaran hutan dan lahan dapat dihindari.
➡️ Baca Juga: Persebaya Menang 2-0 atas Malut United di BRI Super League Ternate
➡️ Baca Juga: Pemudik Melintasi Jalur Selatan dan Tengah Jawa Tengah Menjelang Liburan




