kpkgg
Megapolitan

DPRD DKI Tekankan Pemilahan Sampah dari Hulu, Fokus pada 11 Sungai Utama

Jakarta – Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memperluas pengelolaan sampah terpadu di sepanjang 11 sungai utama mendapatkan dukungan positif dari para legislator. Inisiatif yang dipelopori oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dianggap sebagai langkah strategis untuk mengurangi penumpukan sampah, khususnya di Pintu Air Manggarai, dengan melakukan proses penyaringan dan pengolahan sejak dari hulu.

Pentingnya Pemilahan Sampah dari Hulu

Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Muhammad Thamrin, mengungkapkan bahwa penanganan sampah seharusnya dimulai sebelum sampah tersebut terbawa arus menuju pusat kota. Ia menilai bahwa fasilitas penyaringan terpadu, seperti yang terdapat di TB Simatupang, dapat berfungsi untuk memilah sampah sungai berdasarkan jenisnya, sehingga setiap kategori dapat ditangani sesuai dengan karakteristiknya masing-masing.

“Lebih baik jika sampah disaring dari hulu agar bisa langsung dipilah dan diolah,” tegas Thamrin dalam pernyataannya sebelumnya.

Proses Pengolahan Sampah yang Efektif

Dengan adanya sistem pemilahan yang tepat, sampah organik dapat diolah menjadi kompos serta maggot, sedangkan sampah anorganik dapat dipadatkan untuk memenuhi kebutuhan industri. Pengolahan yang dilakukan sejak awal diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang mengendap dan sekaligus meningkatkan pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai guna.

Thamrin menekankan bahwa perluasan sistem penyaringan ke sebelas sungai lainnya harus diiringi dengan integrasi fasilitas pengolahan sampah. Beberapa fasilitas yang mendukung proses tersebut, antara lain, adalah Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan, RDF Bantargebang, serta tempat pengolahan sampah dengan prinsip reduce, reuse, recycle (TPS 3R).

Perbedaan dalam Penanganan Jenis Sampah

Ia menjelaskan bahwa setiap jenis sampah memerlukan penanganan yang berbeda agar proses pengolahan dapat berjalan dengan efektif. Sampah basah yang berasal dari sungai, misalnya, tidak bisa langsung diproses di fasilitas RDF, melainkan memerlukan penanganan awal sebelum memasuki tahap pengolahan yang lebih lanjut.

Integrasi antara berbagai fasilitas sangat penting agar sampah yang telah disaring tidak menimbulkan masalah baru di tempat pengolahan. Pemerintah daerah harus memastikan bahwa seluruh proses pemilahan, pengangkutan, hingga pengolahan akhir dilakukan sesuai dengan karakteristik sampah yang dikumpulkan.

Pentingnya Edukasi Masyarakat

Selain memperkuat infrastruktur, Thamrin juga mengingatkan Pemprov DKI untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan sampah dari lingkungan sekitar. Ia menekankan pentingnya penegakan aturan di tingkat rumah tangga agar sampah tidak dibuang sembarangan dan berakhir di saluran air maupun sungai.

Salah satu langkah yang bisa dioptimalkan adalah pelaksanaan Peraturan Gubernur Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Lingkup Rukun Warga. Penguatan bank sampah dan pengoperasian TPS 3R di tingkat kelurahan juga diyakini dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang masuk ke aliran sungai.

Optimalisasi TPS 3R di Tingkat Kelurahan

“Jika TPS 3R di kelurahan dapat berjalan dengan baik, maka sampah tidak akan masuk ke sungai sejak awal,” ungkap Thamrin.

Dia menegaskan bahwa keberhasilan dalam pengelolaan sampah di sungai tidak hanya bergantung pada fasilitas yang dibangun oleh pemerintah, tetapi juga pada kebiasaan masyarakat dalam memilah dan membuang sampah. Oleh karena itu, keterlibatan warga sangat penting untuk sejalan dengan peningkatan kapasitas pengolahan sampah di berbagai wilayah Jakarta.

Kolaborasi dengan Daerah Penyangga

Thamrin juga mendorong adanya kerja sama antara Pemprov DKI Jakarta dan daerah penyangga, seperti Bogor dan Depok, untuk mengendalikan sampah yang berasal dari wilayah hulu. Kolaborasi ini dapat dilakukan melalui skema bantuan hibah berbasis kinerja yang mendukung pembangunan fasilitas penyaringan sampah serta pengawasan terhadap pembuangan sampah liar yang terjadi di sepanjang aliran Sungai Ciliwung.

“Replikasi ke sebelas sungai itu perlu didukung dengan eksekusi teknis dan kerja sama lintas daerah,” imbuhnya.

Strategi Pengendalian Sampah dari Hulu

Menurut Thamrin, pengendalian sampah dari daerah hulu harus menjadi bagian dari strategi bersama. Aliran sungai tidak mengenal batas administrasi pemerintahan, sehingga koordinasi yang baik antar daerah sangat diperlukan. Dengan demikian, upaya penanganan sampah dapat dilakukan sejak sumbernya, dan beban pengelolaan di wilayah Jakarta bisa berkurang secara signifikan.

Keterlibatan masyarakat dalam pemilahan sampah juga menjadi kunci keberhasilan dari semua inisiatif ini. Melalui edukasi yang tepat dan fasilitas yang memadai, diharapkan kesadaran masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah dapat meningkat, sehingga dampak positifnya dapat dirasakan oleh lingkungan sekitar.

Dengan semua langkah strategis ini, DKI Jakarta tidak hanya akan menghadapi masalah sampah dengan lebih efektif, tetapi juga dapat menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat bagi warganya. Melalui pemilahan sampah yang baik dan pengelolaan yang terintegrasi, harapan untuk mengurangi pencemaran di sungai-sungai Jakarta menjadi lebih nyata.

➡️ Baca Juga: Gofar Hilman Jelaskan Asal Pertanyaan yang Membuat Cinta Laura Marah di Podcast

➡️ Baca Juga: Siswi SMK Tasikmalaya Hilang 6 Hari Ditemukan Selamat di Lantai 33 Apartemen Tangerang

Related Articles

Back to top button