Tri Hita Karana Universal Reflection Ceremony Serukan Kedamaian di Tengah Disrupsi AI

— Paragraf 1 —
BALI – Rangkaian Bali Harmony Encounter Week 2026 mencapai puncaknya melalui Tri Hita Karana Universal Reflection Ceremony 2026 yang digelar di Sunset Mandala, Sira Village, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.
— Paragraf 2 —
Mengangkat tema “Holding Space for Peace: Peace Within, Peace Among Us, Peace with All Life”, upacara tersebut menjadi ruang refleksi bagi para pemimpin, delegasi muda, tokoh spiritual, akademisi, dan perwakilan masyarakat dari berbagai negara untuk membicarakan kembali makna kedamaian di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung cepat dan meningkatnya fragmentasi global.
— Paragraf 3 —
Bali Harmony Encounter Week 2026 berlangsung pada 2–7 September 2026 dan melibatkan delegasi dari lebih dari 70 negara. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pemerintah, sektor teknologi, akademisi, masyarakat sipil, hingga komunitas lokal.
— Paragraf 4 —
Pertemuan tersebut menempatkan isu kecerdasan buatan (AI), martabat manusia, pendidikan, kepemimpinan, dan masa depan berkelanjutan sebagai bagian dari pembahasan. Di tengah agenda yang sarat dengan diskusi teknologi dan kebijakan, Tri Hita Karana Universal Reflection Ceremony menjadi ruang untuk mengambil jeda dan melihat kembali dimensi kemanusiaan dari perubahan tersebut.
— Paragraf 6 —
Wakil Presiden United In Diversity Foundation Suyoto mengatakan, kedamaian tidak semestinya dipahami hanya sebagai kondisi ideal yang hendak dicapai, melainkan hubungan yang perlu dipelihara secara terus-menerus.
— Paragraf 7 —
“Kedamaian bukanlah sekadar tujuan akhir yang dicapai melalui teori, melainkan sebuah hubungan yang harus kita rawat secara aktif setiap hari,” ujar Suyoto.
— Paragraf 8 —
Menurut dia, Indonesia memiliki pengalaman penting dalam membangun kehidupan sosial yang beragam. Ia menyinggung peningkatan Indeks Kemajuan Manusia serta kerukunan umat beragama sebagai bagian dari perkembangan yang perlu terus diperkuat.
— Paragraf 9 —
Melalui Tri Hita Karana Universal Reflection Forum, Yayasan United In Diversity (UID) berupaya membawa semangat Tri Hita Karana ke dalam percakapan global.
— Paragraf 10 —
Konsep Tri Hita Karana yang berasal dari filosofi Bali menekankan pentingnya keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam atau kehidupan secara keseluruhan. Dalam forum tersebut, prinsip itu diterjemahkan ke dalam seruan mengenai tiga dimensi kedamaian: kedamaian dalam diri, kedamaian antarsesama, dan kedamaian dengan seluruh kehidupan.
— Paragraf 11 —
Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika perkembangan teknologi, termasuk AI, membawa perubahan terhadap cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, dan mengambil keputusan.
— Paragraf 13 —
Sebelum upacara refleksi, Bali Harmony Dialogue digelar pada 3 September 2026 di United In Diversity (UID) Bali Campus, KEK Kura Kura Bali.
— Paragraf 14 —
Dialog tersebut menjadi bagian awal dari rangkaian Bali Harmony Encounter Week 2026 sekaligus pembuka menuju inisiatif AI World Congress Bali. Forum mempertemukan para pemangku kepentingan dari tiga sektor (tri-sector), yakni pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil.
— Paragraf 15 —
Salah satu agenda utama adalah kuliah umum bertajuk “Intelligence: Natural and Artificial” yang menghadirkan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie.
— Paragraf 16 —
Dalam paparannya, Stella membahas posisi negara berkembang dalam perkembangan AI global. Menurut materi penyelenggara, pembahasan tersebut menekankan perlunya negara berkembang bergerak dari posisi sebagai konsumen teknologi menuju peran yang lebih aktif sebagai pengembang, peneliti, sekaligus pihak yang ikut membentuk tata kelola AI global.
➡️ Baca Juga: Tim SAR Cianjur Melaksanakan Operasi Pencarian Anak Hilang di Sungai yang Terbawa Arus
➡️ Baca Juga: 8 Kesalahpahaman Tentang Peran Istri yang Berpotensi Merusak Pernikahan Anda



