Tingkatkan Kualitas Olahraga Disabilitas, 115 Peserta Ikuti ToT di Blitar

Olahraga disabilitas merupakan salah satu aspek penting dalam menciptakan masyarakat yang inklusif dan berkeadilan. Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi untuk meningkatkan kualitas olahraga disabilitas di Indonesia. Untuk menjawab tantangan ini, Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) telah mengambil langkah proaktif dengan melaksanakan Training of Trainers (ToT) di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Kegiatan yang berlangsung pada 22–23 September 2026 ini berhasil menarik perhatian 115 peserta dari berbagai daerah, yang semuanya berkomitmen untuk menjadi penggerak dalam dunia olahraga bagi penyandang disabilitas.
Peran Strategis ToT dalam Meningkatkan Kualitas Olahraga Disabilitas
Kegiatan ToT yang diselenggarakan di Hotel Puri Perdana, Blitar, memberikan wadah bagi para peserta untuk belajar dan berbagi pengetahuan mengenai olahraga disabilitas. Peserta yang berasal dari Kabupaten Blitar dan beberapa daerah sekitar, seperti Kota Blitar, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Trenggalek, dan Kabupaten Kediri, telah melalui proses seleksi ketat. Mereka terdiri dari pelatih olahraga, atlet, mantan atlet disabilitas, serta guru dari Sekolah Luar Biasa (SLB) dan sekolah inklusi.
Giatno, perwakilan panitia pelaksana, menekankan bahwa ToT ini merupakan langkah konkret untuk memperkuat olahraga inklusif di tingkat daerah. “Kegiatan ini bertujuan untuk mempersiapkan para pelatih, mantan atlet, dan guru sebagai kader penggerak pembudayaan olahraga di masyarakat penyandang disabilitas,” paparnya. Melalui pelatihan ini, diharapkan para peserta dapat membawa pengetahuan yang diperoleh untuk diterapkan di lingkungan mereka masing-masing.
Materi Berkualitas dari Para Ahli
Untuk memastikan peserta mendapatkan materi yang komprehensif, pelatihan ini melibatkan tim pakar dan akademisi dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) serta National Paralympic Committee (NPC) Indonesia. Kehadiran para ahli ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang pembinaan, kepelatihan, klasifikasi disabilitas, serta pengembangan potensi atlet. Dengan begitu, peserta diharapkan memiliki keterampilan yang mumpuni untuk mengembangkan olahraga disabilitas di daerah mereka.
Peran Olahraga dalam Meningkatkan Kualitas Hidup
Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Disporabudpar) Kabupaten Blitar, Dodot Darudono, menyampaikan apresiasi terhadap kepercayaan Kemenpora yang menjadikan Blitar sebagai tuan rumah ToT. Ia menegaskan bahwa olahraga memiliki peran yang lebih luas, tidak hanya sekadar menjaga kebugaran dan mengejar prestasi. “Olahraga dapat membangun kemandirian, kepercayaan diri, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa olahraga disabilitas merupakan bagian integral dari pembangunan olahraga nasional, di mana setiap individu berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang.
Dodot juga menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak dalam mengembangkan olahraga disabilitas. Pemerintah pusat dan daerah, organisasi olahraga, sekolah, serta komunitas disabilitas perlu bersinergi untuk menciptakan lingkungan olahraga yang inklusif dan mudah diakses. Dengan kolaborasi ini, diharapkan dapat tercipta ekosistem yang mendukung penyandang disabilitas untuk berpartisipasi dalam olahraga.
ToT Blitar Sebagai Penutup Rangkaian Pelatihan di Jawa Timur
Kegiatan ToT di Blitar menjadi titik ketiga dan penutup rangkaian pelatihan yang diadakan di Jawa Timur tahun ini, setelah sebelumnya dilaksanakan di Mojokerto dan Kota Kediri. Yuslan, Analis Kebijakan Ahli Madya pada Asisten Deputi Olahraga Layanan Khusus, menekankan pentingnya untuk tidak berhenti belajar setelah pelatihan. “Peserta diharapkan dapat menjadi penggerak aktif di masyarakat,” imbuhnya.
Dengan harapan bahwa setelah pelatihan ini selesai, para peserta akan terus berkontribusi dalam mengembangkan olahraga disabilitas. Kemenpora juga akan memantau keaktifan mereka di lapangan untuk mendukung pengembangan lebih lanjut.
Menumbuhkan Atlet Disabilitas Berprestasi
Nur Agung Martopo, perwakilan NPCI Pusat sekaligus narasumber dalam pelatihan ini, menekankan bahwa pembekalan pengetahuan dan teknik kepelatihan adalah kunci dalam pencarian serta pembinaan atlet disabilitas. “Para penggerak olahraga memiliki posisi strategis karena mereka berinteraksi langsung dengan masyarakat dan calon atlet di daerah,” jelasnya. Dengan pelatihan ini, diharapkan peserta dapat memiliki bekal pengetahuan yang tepat untuk mengajak dan membina calon atlet.
- Pembekalan pengetahuan yang mendalam
- Teknik kepelatihan yang efektif
- Pemahaman tentang klasifikasi disabilitas
- Kemampuan untuk mengembangkan potensi atlet
- Jaringan yang luas dalam komunitas olahraga
Menemukan Potensi Atlet melalui Pendidikan
Salah satu peserta yang merasakan manfaat dari pelatihan ini adalah Ira Choirotuz Zawaidah, seorang guru SLB. Ia mengungkapkan bahwa pelatihan ini telah memberinya wawasan baru mengenai klasifikasi disabilitas dan berbagai cabang olahraga paralimpik. “Kami jadi lebih memahami pembagian kelas disabilitas dan cabang-cabang olahraga yang dipertandingkan,” ujarnya.
Ira berencana untuk menerapkan pengetahuan yang didapat dengan membangun kolaborasi bersama sekolah dan orang tua murid. “Setelah kembali ke daerah, kami akan bekerja sama untuk mengidentifikasi anak-anak yang memiliki potensi di bidang olahraga,” tuturnya.
Membangun Ekosistem Olahraga Disabilitas yang Berkelanjutan
Penyelenggaraan ToT di Blitar menjadi bagian dari upaya untuk memperluas pembudayaan olahraga bagi masyarakat penyandang disabilitas. Dengan 115 peserta yang mengikuti pelatihan ini, diharapkan mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru tetapi juga mampu menerapkannya di lingkungan masing-masing. Guru, pelatih, mantan atlet, dan penggerak olahraga memiliki peran penting dalam menemukan dan mengembangkan potensi atlet disabilitas sejak dini.
Kemenpora berharap semakin banyak penggerak olahraga disabilitas yang mampu menghidupkan aktivitas olahraga secara berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah, organisasi olahraga, sekolah, dan komunitas disabilitas menjadi kunci untuk membangun ekosistem olahraga yang ramah, inklusif, dan memberikan kesempatan setara bagi penyandang disabilitas.
Dengan penguatan sumber daya manusia di tingkat daerah, diharapkan pembinaan olahraga disabilitas semakin terstruktur dan membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat penyandang disabilitas untuk aktif berolahraga, hingga mencapai prestasi di tingkat nasional maupun internasional.
➡️ Baca Juga: Gofar Hilman Jelaskan Asal Pertanyaan yang Membuat Cinta Laura Marah di Podcast
➡️ Baca Juga: Objek Wisata Hiu Paus Menjadi Daya Tarik Utama bagi Wisatawan yang Berkunjung




