Pendidikan di era digital saat ini mengalami transformasi signifikan, salah satunya berkat kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI). Laporan terbaru dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mengenai Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2025 telah mengungkapkan fakta menarik bahwa 46 persen siswa di seluruh dunia memanfaatkan AI, khususnya chatbot, dalam proses belajar mereka. Namun, meskipun penggunaan AI meningkat, tantangan dan pertanyaan mengenai efektivitasnya dalam meningkatkan hasil belajar masih menjadi isu yang perlu dibahas, terutama dalam konteks pendidikan di Indonesia.
Mengenal PISA dan Pentingnya Penilaian Global
PISA merupakan sebuah program penilaian yang dikembangkan oleh OECD untuk mengevaluasi kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam tiga bidang utama: membaca, matematika, dan sains. Setiap tiga tahun, PISA melakukan survei untuk mengumpulkan data yang mencerminkan kualitas pendidikan di berbagai negara. Pada edisi 2025, fokus utama penilaian adalah literasi sains, yang menjadi semakin relevan di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kebutuhan akan pemahaman ilmiah yang kuat.
Hasil dari PISA bukan hanya memberikan gambaran mengenai kemampuan akademis siswa, tetapi juga mencerminkan sistem pendidikan suatu negara secara keseluruhan. Dengan data yang dihasilkan, negara-negara dapat mengevaluasi dan memperbaiki kebijakan pendidikan mereka untuk meningkatkan kualitas belajar siswa.
Tren Penggunaan AI dalam Pembelajaran
Seiring dengan perkembangan teknologi, penggunaan AI dalam pendidikan semakin meluas. Menurut laporan PISA 2025, sekitar 46 persen siswa di seluruh dunia menggunakan AI, seperti chatbot, setidaknya satu kali dalam seminggu untuk mendukung proses belajar mereka. Penggunaan teknologi ini menunjukkan bahwa siswa mulai beradaptasi dengan alat yang dapat membantu mereka dalam mengakses informasi dan menyelesaikan tugas akademik.
Efektivitas Penggunaan AI dalam Meningkatkan Hasil Belajar
Meskipun angka yang menunjukkan penggunaan AI cukup tinggi, hasil yang dicapai oleh siswa yang memanfaatkan teknologi tersebut tidak selalu positif. Data menunjukkan bahwa siswa yang menggunakan AI untuk membantu belajar, seperti merangkum bacaan atau melakukan riset awal, justru memiliki skor PISA di bidang sains yang lebih rendah—sekitar 20 poin di bawah siswa yang tidak menggunakan AI.
- AI dapat memberikan informasi yang tidak akurat atau menyesatkan.
- Siswa perlu memperlakukan hasil dari AI sebagai titik awal, bukan sumber informasi yang sepenuhnya dapat dipercaya.
- Pentingnya literasi media untuk memahami dan mengevaluasi informasi yang diperoleh dari AI.
- Pendidikan yang berkualitas harus mencakup pemahaman kritis terhadap penggunaan teknologi.
- Peran guru sangat penting dalam membimbing siswa menggunakan AI secara efektif.
Posisi Indonesia dalam PISA 2025
Dalam konteks Indonesia, perhatian terhadap penggunaan AI dalam pendidikan menjadi semakin penting. Kepala Bidang Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Toni Toharudin, menekankan bahwa pemanfaatan AI harus diarahkan dengan tepat. Menurutnya, AI seharusnya menjadi alat bantu dalam proses belajar, bukan sebagai jalan pintas yang menggantikan metode pembelajaran tradisional.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) juga telah mengintegrasikan mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Buatan (KKA) sebagai mata pelajaran pilihan di jenjang SD dan SMP. Ini bertujuan untuk membentuk siswa menjadi pengguna AI yang kritis, kreatif, dan bertanggung jawab dalam menghadapi tantangan di dunia digital.
Strategi Penguatan Literasi dan Numerasi
Penggunaan AI dalam pendidikan di Indonesia diharapkan sejalan dengan penguatan literasi dan numerasi. Toni menekankan bahwa siswa perlu dilatih untuk menggunakan AI secara efektif dalam mendukung kemampuan mereka dalam membaca dan berhitung. Dengan pendekatan yang tepat, diharapkan teknologi ini dapat memperkaya pengalaman belajar siswa dan meningkatkan keterampilan mereka di bidang sains.
Tantangan dan Peluang di Masa Depan
Sementara penggunaan AI menawarkan banyak peluang, tantangan yang dihadapi oleh siswa dan pendidik juga tidak bisa diabaikan. Salah satu tantangan terbesar adalah memastikan bahwa siswa tidak hanya bergantung pada AI untuk menyelesaikan tugas mereka, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
Peran Guru dalam Era AI
Peran guru menjadi sangat krusial dalam mengarahkan siswa untuk menggunakan AI dengan cara yang konstruktif. Guru harus mampu mengajarkan siswa untuk mengevaluasi informasi yang diberikan oleh AI dan mendorong mereka untuk berpikir secara mandiri. Dengan demikian, siswa dapat memanfaatkan teknologi dengan lebih bijaksana dan efektif.
Menghadapi Masa Depan Pendidikan dengan AI
Ke depan, integrasi AI dalam pendidikan akan terus berkembang. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak—pemerintah, guru, dan orang tua—untuk bekerjasama dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung penggunaan teknologi secara positif. Siswa harus dilengkapi dengan keterampilan yang diperlukan untuk beradaptasi dengan cepat di dunia yang serba digital.
Pendidikan yang baik bukan hanya tentang meraih skor tinggi dalam asesmen, tetapi juga tentang membentuk karakter siswa menjadi individu yang siap menghadapi tantangan di masa depan. Dengan pendekatan yang tepat terhadap penggunaan AI, diharapkan siswa Indonesia dapat bersaing di tingkat global dan mencapai potensi terbaik mereka.
➡️ Baca Juga: Umat Hindu Laksanakan Upacara Melasti Sebelum Hari Raya Nyepi dengan Penuh Khidmat
➡️ Baca Juga: Kemhan Ambil Alih Pengelolaan TMPN Kalibata untuk Meningkatkan Integrasi Layanan Publik
