<div>
Jakarta: Memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan, umat Islam biasanya meningkatkan intensitas ibadahnya. Selain mengharapkan turunnya malam <a href=”https://www.medcom.id/tag/20667/lailatul-qadar”>Lailatul Qadar</a>, umat muslim di Indonesia memiliki tradisi khas yang sarat akan nilai spiritual dan sosial, yakni tradisi <a href=”https://www.medcom.id/tag/28245/ramadan-2026″>Maleman</a>.<br/> <br/>
Sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil, adalah waktu yang paling dinanti oleh umat Muslim. Rasulullah SAW bersabda: <br/> <br/>
تَحَرَّوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ<br/><br/>
Artinya: “Carilah lailatul qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan.” (HR Bukhari & Muslim) Hadis ini menegaskan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang penuh dengan kemuliaan yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan dan tersembunyi di salah satu malam ganjil tersebut.
<h2>Apa Itu Tradisi Maleman?</h2>
<br/>
Secara etimologi, menurut KBBI, maleman adalah kegiatan selamatan atau kenduri yang dilaksanakan pada malam-malam ganjil di bulan Ramadan. Tradisi ini sudah mengakar kuat sebagai bagian dari kearifan lokal dalam menyambut hari-hari istimewa di penghujung bulan suci.<br/> <br/>
Bagi masyarakat, periode sepuluh hari terakhir Ramadan merupakan waktu yang sangat berharga untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak sedekah, serta melakukan ibadah sunah lainnya.
<div>
<p><strong>Baca Juga :</strong></p>
<h3><a href=”https://www.medcom.id/nasional/peristiwa/zNPR00Wk-bukan-sekadar-ampunan-inilah-hakikat-doa-lailatul-qadar-yang-diajarkan-rasulullah”>Bukan Sekadar Ampunan, Inilah Hakikat Doa Lailatul Qadar yang Diajarkan Rasulullah</a></h3>
</div>
<br/>
Tradisi ini bertujuan untuk memotivasi umat agar tetap giat beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, sebagai upaya untuk menjemput keutamaan Lailatul Qadar. Rangkaian ibadahnya meliputi salat Tasbih, salat Hajat, salat Tahajud, hingga salat Witir. <br/> <br/>
Sering kali, kegiatan ini diakhiri dengan agenda berbagi sahur bersama, di mana warga saling memberikan makanan seperti nasi ambeng, buah-buahan, dan minuman. Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk bertemu dengan malam yang penuh kemuliaan ini.<br/> <br/>
Di tengah derasnya arus modernisasi, melestarikan tradisi Maleman adalah cara kita merawat nilai-nilai gotong royong dan kesalehan sosial yang diwariskan leluhur. Mari kita jadikan momen sepuluh hari terakhir ini sebagai kesempatan emas untuk memaksimalkan ibadah, sekaligus mempererat silaturahmi dengan sesama. <br/> <br/>
Semoga semangat kebersamaan ini tidak hanya berhenti di bulan Ramadan, namun tetap menyala sebagai identitas kita sebagai umat yang peduli dan taat.<br/> <br/>
<strong>(Fany Wirda Putri)</strong><br/> <br/><strong>Cek Berita dan Artikel yang lain di
<a href=”https://news.google.com/publications/CAAqBwgKMO3SgQswosT9Ag?ceid=ID:id&oc=3&hl=id&gl=ID\”>
<div>
<img src=”https://va.medcom.id/2024//default/images/gnews.svg”/>
</div>
<div>
Google News
</div>
</a></strong><div>(RUL)</div> </div>
➡️ Baca Juga: Lady Gaga Akan Menikah Segera: Rekomendasi Lagu Spesial dari Bruno Mars untuk Perayaan Pernikahan Anda
➡️ Baca Juga: Nuzulul Qur’an dan Kenegaraan: Quraish Shihab Berdoa untuk Presiden Prabowo, Menyinggung Kekuasaan Tuhan
