Jakarta – Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam penanganan penyakit Tuberkulosis (TBC), yang merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang signifikan. Menurut laporan Global Tuberculosis Report 2025 dari World Health Organization (WHO), Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara dengan jumlah kasus TBC terbanyak di dunia, hanya di belakang India. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa pada tahun 2025, masih terdapat provinsi dengan cakupan pemeriksaan kontak yang berada di bawah 10 persen, meskipun tingkat kesuksesan pengobatan TBC sudah mencapai lebih dari 95 persen. Di Jawa Barat, dari Januari hingga April 2025, teridentifikasi 226.907 kasus, atau 96,9 persen dari perkiraan total 234.288 kasus. Sementara itu, di Banten, ditemukan 56.297 kasus, yang melebihi estimasi 50.298 kasus dengan persentase 111,9.
Dalam menghadapi situasi ini, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) telah meluncurkan inisiatif kolaborasi lintas kementerian untuk memperkuat penanganan TBC. Kemdiktisaintek bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri untuk membentuk sebuah konsorsium yang melibatkan perguruan tinggi. “Penanganan TBC harus dilakukan secara gotong royong. Perguruan tinggi memiliki potensi besar yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik, pengajaran yang inovatif, serta penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” ungkap Fauzan, yang dikutip dari laman resmi Kemdiktisaintek pada 15 September 2026.
Rencana Pengembangan Kolaborasi
Fauzan juga menekankan pentingnya pengalaman penanganan TBC di Palu sebagai pelajaran dalam mengembangkan kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi. Pola kolaborasi ini akan diperluas ke daerah lainnya. “Dalam waktu dekat, kita akan memperluas kerjasama di Jawa Barat dan DKI Jakarta bersama Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, kementerian dan lembaga terkait, serta pemerintah daerah. Pola ini akan diimplementasikan secara nasional,” tambahnya.
Diskusi mengenai pengembangan kolaborasi ini berlangsung dalam sebuah rapat yang diadakan di Kantor Kemdiktisaintek, Jakarta, pada 3 September 2026. Rapat tersebut melibatkan berbagai pihak, termasuk Kemdiktisaintek, Kemenkes, Kemendagri, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti), dan sejumlah perguruan tinggi. Dalam pertemuan tersebut, Kepala LLDikti Wilayah III Jakarta dan Kepala LLDikti Wilayah IV Jawa Barat dan Banten mempresentasikan pemetaan potensi perguruan tinggi yang dapat dilibatkan dalam penanganan TBC di wilayah masing-masing.
Pemetaan Potensi Perguruan Tinggi
Di wilayah Jawa Barat dan Banten, LLDikti Wilayah IV telah mengidentifikasi 668 program studi yang relevan dan mendukung dari total sekitar 3.000 program studi yang ada. Dari hasil pemetaan tersebut, terdapat potensi 108.548 mahasiswa dari program studi relevan yang dapat berkontribusi sesuai dengan kompetensi masing-masing. Program studi yang terlibat tidak hanya berasal dari bidang kesehatan, tetapi juga mencakup program-program yang mendukung edukasi, komunikasi publik, pengelolaan data, teknologi, pengabdian kepada masyarakat, dan penelitian.
- Program studi kesehatan yang berfokus pada penanganan TBC.
- Program studi komunikasi publik yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat.
- Program studi teknologi informasi untuk pengelolaan data TBC.
- Program studi sosial yang mendukung penelitian terkait kondisi masyarakat.
- Program studi penelitian yang dapat menghasilkan inovasi pengobatan.
Sebagai langkah awal di Jawa Barat, sekitar 10 persen dari potensi tersebut, atau sekitar 10.000 mahasiswa, diharapkan dapat terlibat dalam program KKN tematik. Keterlibatan ini akan diperluas melalui pengabdian masyarakat oleh mahasiswa dan dosen, termasuk kemungkinan konversi SKS, serta pengembangan penelitian terkait. Pelaksanaan program tersebut akan disesuaikan dengan kesiapan masing-masing perguruan tinggi serta kalender akademik yang berlaku.
Pemanfaatan Kolaborasi di DKI Jakarta
Di DKI Jakarta, Kepala LLDikti Wilayah III Jakarta mengungkapkan pemetaan sekitar 34.000 mahasiswa dari program studi yang relevan. Pengalaman kolaborasi antara lima perguruan tinggi dengan Pemerintah Kota Jakarta Barat dalam penanganan TBC juga menjadi bagian dari pengembangan kolaborasi di DKI Jakarta. Keterlibatan perguruan tinggi di kedua wilayah ini akan dikoordinasikan melalui LLDikti masing-masing, bersama dengan perguruan tinggi dan pemerintah daerah, sesuai dengan rencana aksi yang telah disusun.
Pentingnya Edukasi Masyarakat
Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, menekankan peran penting perguruan tinggi dalam memperkuat edukasi masyarakat mengenai TBC. “Kunci utama adalah memastikan masyarakat memahami bagaimana cara penanganan TBC. Oleh karena itu, kolaborasi dengan universitas dalam aspek edukasi menjadi sangat penting,” jelas Benjamin.
Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus, menambahkan bahwa penanganan TBC harus menjadi bagian integral dari perencanaan pembangunan daerah dan dukungan penganggaran setempat. Ia juga mendorong pemanfaatan kegiatan mahasiswa di lapangan sebagai bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Peran Kemenko PMK dalam Penanganan TBC
Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) turut mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam penanganan TBC, termasuk dukungan terhadap aspek gizi dan kondisi sosial masyarakat. Kemdiktisaintek selanjutnya akan mengembangkan kolaborasi ini melalui konsorsium yang melibatkan Kemenkes, Kemendagri, kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, LLDikti, perguruan tinggi, serta stakeholder lainnya.
Konsorsium ini akan bertugas untuk mengoordinasikan berbagai aktivitas dalam penanganan TBC sesuai dengan peran masing-masing pihak, yang mencakup edukasi dan pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta penguatan data. Koordinasi pengembangan kolaborasi juga akan melibatkan LLDikti dari Wilayah I hingga XVII sebagai bagian dari rencana perluasan keterlibatan perguruan tinggi di berbagai daerah.
Implementasi Secara Nasional
Pola kolaborasi ini akan dikembangkan secara nasional dengan melibatkan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, LLDikti, perguruan tinggi, serta stakeholder terkait lainnya. Pengembangan kolaborasi ini merupakan bagian dari semangat Diktisaintek Berdampak, yang bertujuan untuk mendorong pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat dan isu-isu nyata di daerah.
Melalui langkah-langkah strategis ini, diharapkan penanganan TBC di Indonesia dapat meningkat secara signifikan, dengan melibatkan semua elemen masyarakat, termasuk akademisi, pemerintah, dan komunitas, dalam upaya bersama untuk memerangi penyakit ini. Keterlibatan perguruan tinggi sebagai agen perubahan diharapkan dapat menghasilkan solusi inovatif yang tidak hanya membantu mengurangi jumlah kasus TBC, tetapi juga meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya pencegahan dan penanganan TBC secara efektif.
➡️ Baca Juga: Peluang Bisnis Berkelanjutan: Usaha Rumahan dengan Produk Ramah Lingkungan
➡️ Baca Juga: Indrak, Spesialis SEO, Buka Suara Tentang Perkembangan JIS Untuk Konser BTS 2026: Apakah Ada Hambatan?
