Harga Telur Naik Turun, Satgas Saber Pangan Jabar Ambil Langkah Kendalikan Harga

Harga telur ayam di Jawa Barat saat ini menunjukkan fluktuasi yang cukup signifikan, mengakibatkan Satuan Tugas Sapu Bersih Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan (Satgas Saber Pangan) mengambil langkah proaktif untuk mengendalikan situasi ini. Pada inspeksi yang dilakukan di Pasar Kosambi, Bandung, pada hari Sabtu (14/3), harga telur ayam terpantau sudah melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan, sehingga menjadi perhatian serius.

Langkah Proaktif Satgas Saber Pangan Jabar

Menyikapi kondisi tersebut, Satgas Saber Pangan Jabar segera melakukan penyelidikan terhadap rantai pasok telur ayam di wilayah Bandung. Para pengecer di pasar mengungkapkan bahwa mereka terpaksa menjual telur dengan harga tinggi, sekitar Rp 31.000 per kilogram, karena harga yang mereka terima dari distributor sudah terlanjur melonjak.

Penelusuran yang dilakukan oleh Satgas Saber Pangan mengidentifikasi bahwa pasokan telur ayam berasal dari Pasar Induk Caringin serta distributor di sekitar Pasar Cikutra. Hasil investigasi menunjukkan bahwa distributor mengaku telah menerima harga yang naik dari produsen dalam beberapa hari terakhir.

Arahan dari Badan Pangan Nasional

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menegaskan pentingnya mengusut semua pihak dalam rantai pasok. “Hari ini, kami menelusuri harga telur ayam karena situasi di pasar telah melebihi HAP. Sesuai arahan Kepala Bapanas, jika ada anomali harga, kami harus menyelidiki hingga ke distributor dan produsen,” ucapnya.

Komitmen Penurunan Harga dari Produsen dan Distributor

Hasil dari penelusuran yang dilakukan menunjukkan perkembangan positif. Produsen dan distributor telur ayam berkomitmen untuk menurunkan harga hingga menjelang Idulfitri. Sumber pasokan telur ayam ke Kota Bandung sebagian besar berasal dari Blitar, Jawa Timur.

Ketut melanjutkan, “Kami telah berkomunikasi langsung dengan peternak di Blitar. Bersama Kombes Pol Wirdhanto Hadicaksono dari Direskrimsus Polda Jabar, kami sepakat untuk menurunkan harga produsen, sehingga harga grosir telur ayam bisa mencapai sekitar Rp 27.500 per kilogram. Dengan demikian, harga di tingkat pengecer masih dapat dijaga di angka Rp 30.000 per kilogram.”

Pembaruan HAP dan Dampaknya

Untuk informasi lebih lanjut, Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat produsen untuk telur ayam ras ditetapkan maksimum Rp 26.500 per kilogram, sementara HAP di tingkat konsumen maksimal Rp 30.000 per kilogram. Ketentuan ini diatur dalam Keputusan Kepala Bapanas Nomor 529 Tahun 2024.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada bulan Februari 2026, komoditas telur ayam ras tercatat memiliki inflasi sebesar 5,79 persen secara tahunan. Sementara itu, kontribusi telur ayam ras terhadap inflasi umum berada di angka 0,06 persen.

Dampak Positif Terhadap Ekonomi Peternakan

Meskipun ada fluktuasi harga, telur ayam ras juga memberikan dampak positif terhadap Nilai Tukar Petani untuk subsektor peternakan. Pada bulan Februari 2026, nilai ini meningkat menjadi 103,62. Indeks harga yang diterima oleh petani unggas juga mengalami lonjakan ke angka 133,63, yang merupakan pencapaian tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Di sisi lain, laporan BPS menunjukkan bahwa rerata harga telur ayam ras di tingkat konsumen nasional hingga minggu pertama Maret 2026 masih berada di atas HAP yang ditetapkan. Hanya terdapat 53 kabupaten/kota yang mengalami penurunan Indeks Perkembangan Harga (IPH) untuk telur ayam ras pada pekan pertama Maret.

Surplus dan Potensi Ekspor Telur Ayam

Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian, mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini mengalami surplus untuk komoditas telur ayam. Pasokan yang melimpah dari produksi domestik bahkan memungkinkan Indonesia untuk melakukan ekspor. Dalam situasi ini, Amran meminta agar tidak ada kenaikan harga yang dapat membebani masyarakat selama bulan Ramadan dan Idulfitri.

“Kita sudah surplus telur ayam, bahkan mampu mengekspor. Saya harap tidak ada alasan untuk menaikkan harga di masyarakat. Jika ada kenaikan yang tidak wajar, saya minta Satgas Saber untuk menelusuri hingga ke distributor dan produsen. Tidak boleh ada anomali harga pangan,” tegas Amran.

Proyeksi Ketersediaan Pangan

Surplus nasional untuk telur ayam ras didukung oleh Bapanas melalui Proyeksi Neraca Pangan. Produksi telur ayam ras dalam negeri diperkirakan mencapai 7,32 juta ton, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nasional yang berada di angka 6,47 juta ton.

Dengan langkah-langkah yang diambil oleh Satgas Saber Pangan, diharapkan harga telur dapat dikendalikan dan tetap terjangkau bagi masyarakat, terutama menjelang bulan suci Ramadan dan perayaan Idulfitri. Keseluruhan upaya ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga serta memastikan ketersediaan pangan yang cukup bagi seluruh lapisan masyarakat.

➡️ Baca Juga: Blade Battery Generasi Kedua, Banyak Peningkatannya

➡️ Baca Juga: Hasil Positif Program Pengentasan Perdagangan Daging Anjing di NTT Terlihat Jelas

Exit mobile version