slot depo 10k
Nasional

Ekonomi RI Berisiko Jebol Jika Inflasi Mencapai 5 Persen atau Lebih

Jakarta – Dalam pernyataannya, Esther Sri Astuti, seorang pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang dan Direktur Eksekutif Indef, memperingatkan bahwa jika inflasi melonjak hingga mencapai 5 persen, maka ekonomi Indonesia berisiko mengalami keruntuhan.

Penyebab Inflasi Meningkat

Esther menjelaskan bahwa momen Lebaran biasanya menjadi faktor pendorong utama inflasi, terutama dari sisi permintaan. Selama periode ini, konsumsi rumah tangga cenderung meningkat. Di samping itu, ada juga risiko inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia, yang memengaruhi sisi penawaran.

“Kenaikan harga energi global yang terjadi bersamaan dengan meningkatnya konsumsi masyarakat selama bulan Ramadan dapat memberikan tekanan tambahan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia, serta daya tahan sektor usaha, khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM),” jelasnya.

Dinamika Ekonomi Selama Ramadan

Ramadan, menurut Esther, merupakan saat yang penuh peluang sekaligus tantangan bagi perekonomian Indonesia. Berbagai dinamika global, termasuk konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia, dapat memengaruhi stabilitas ekonomi domestik. Hal ini terlihat dari penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR), yang seringkali mendorong lonjakan permintaan terhadap kebutuhan pokok, pakaian, transportasi, dan perjalanan mudik.

Namun, menjelang bulan suci dan perayaan Idul Fitri, sering kali terjadi kenaikan harga yang signifikan pada komponen makanan volatile dan harga yang diatur, sehingga peran THR dalam meningkatkan daya beli masyarakat menjadi kurang efektif. Situasi ini menjadi semakin rumit dengan adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), kemacetan saat mudik, dan dampak dari konflik global yang menyebabkan lonjakan harga energi dan bahan baku.

Dampak Inflasi terhadap Daya Beli

Dampak dari periode Ramadan dan Idul Fitri terlihat jelas dalam pertumbuhan M1, di mana meskipun terjadi peningkatan, laju pertumbuhannya melambat dalam beberapa tahun terakhir. Ini menunjukkan adanya penurunan daya beli di masyarakat. Konsumsi lebih banyak terjadi pada kelompok berpendapatan tinggi, sedangkan kalangan menengah ke bawah semakin tertekan. Kenaikan inflasi ini dipicu oleh inflasi musiman yang berasal dari kedua sisi, baik permintaan maupun penawaran.

Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), menyatakan bahwa inflasi bulan ini memang disebabkan oleh kenaikan harga bahan pangan dan barang pokok yang meningkat akibat tingginya permintaan sepanjang bulan Ramadan. Selain itu, harga transportasi juga mengalami kenaikan seiring dengan banyaknya pemudik, serta harga BBM yang terpengaruh oleh kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Faktor Idul Fitri dalam Inflasi

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, memperkirakan bahwa inflasi akan melonjak hingga 5 hingga 5,4 persen pada bulan Maret (year on year/yoy). Prediksi ini terutama dipengaruhi oleh libur Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026, di mana konsumsi BBM yang tinggi turut berkontribusi pada kenaikan harga bahan pangan dan barang pokok selama periode tersebut.

“Diperkirakan inflasi akan mencapai 5 hingga 5,4 persen pada bulan Maret karena faktor Lebaran, ditambah dengan dorongan dari kenaikan harga BBM nonsubsidi. Tantangan akan muncul ketika konsumsi BBM saat mudik Lebaran meningkat, sementara stok terganggu akibat konflik di Timur Tengah,” ungkap Bhima saat dihubungi di Jakarta.

Dampak Kenaikan Harga terhadap Perilaku Konsumen

Bhima menambahkan bahwa tekanan inflasi dari harga BBM terhadap harga pangan akan meningkatkan biaya di pasar tradisional dan ritel modern. Kenaikan biaya logistik ini berpotensi diteruskan dari pengusaha kepada konsumen, yang dapat memengaruhi perilaku belanja di kalangan masyarakat selama momen Lebaran.

  • Tekanan inflasi dari BBM memicu kenaikan harga pangan.
  • Kenaikan biaya logistik berpengaruh pada harga barang.
  • Pemudik mengalami kesulitan akibat lonjakan permintaan BBM.
  • Daya beli masyarakat tertekan akibat inflasi yang meningkat.
  • Perilaku belanja berubah, masyarakat cenderung berhemat.

“Sebagian masyarakat kemungkinan akan berhemat saat Lebaran, atau tidak menghabiskan seluruh dana dari tunjangan hari raya (THR). Dampaknya, mereka akan menahan belanja barang-barang sekunder dan tersier pada saat Lebaran. Hal ini membuat konsumsi tidak optimal, padahal momen ini sangat dinantikan oleh para pelaku usaha sepanjang tahun,” imbuhnya.

Potensi Risiko Ekonomi di Masa Depan

Jika inflasi mencapai 5 persen atau lebih, risiko terhadap perekonomian Indonesia menjadi semakin nyata. Pertumbuhan ekonomi yang stagnan dapat menyebabkan ketidakstabilan di berbagai sektor, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang bergantung pada daya beli masyarakat. Ketika daya beli menurun, dampaknya akan terasa di seluruh rantai pasokan, mulai dari produsen hingga konsumen akhir.

Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengambil langkah-langkah strategis guna meredam inflasi. Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  • Meningkatkan pasokan bahan pangan untuk menjaga stabilitas harga.
  • Memperkuat kebijakan subsidi untuk barang kebutuhan pokok.
  • Menjaga kestabilan nilai tukar rupiah agar tidak terdevaluasi lebih jauh.
  • Memantau dan mengatur harga BBM secara ketat.
  • Memberikan dukungan kepada UMKM agar tetap beroperasi di tengah tekanan inflasi.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan inflasi dapat dikendalikan, dan ekonomi Indonesia tetap berada dalam jalur pertumbuhan yang positif, meskipun menghadapi tantangan yang cukup kompleks. Keberhasilan dalam mengelola inflasi akan menjadi kunci untuk menjaga daya beli masyarakat serta stabilitas ekonomi di masa mendatang.

➡️ Baca Juga: Bodo/Glimt Kembali Bikin Kejutan dengan Kalahkan Sporting CP 3-0

➡️ Baca Juga: Pemulihan Ekonomi Petani Stroberi Agam Pasca Banjir Bandang Mulai Terlihat

Related Articles

Back to top button