AHY Dukung Pengembangan Hunian TOD di Kota Besar untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa pengembangan hunian berbasis Transit Oriented Development (TOD) merupakan solusi strategis untuk membangun kota modern dan sekaligus memperluas akses terhadap perumahan yang terjangkau di tengah tantangan keterbatasan lahan di daerah perkotaan.
Konsep TOD dan Urbanisasi Global
AHY menyatakan bahwa banyak kota besar di dunia telah mengimplementasikan konsep TOD untuk mengintegrasikan hunian, pusat aktivitas ekonomi, serta sistem transportasi publik dalam satu kawasan yang saling terhubung. Fenomena urbanisasi global menunjukkan bahwa sekitar 70 persen populasi dunia diperkirakan akan tinggal dan beraktivitas di kawasan perkotaan. Ini menciptakan tantangan baru dalam menyediakan hunian yang layak dan terjangkau.
“Diperkirakan 70 persen masyarakat dunia, termasuk Indonesia, akan hidup dan beraktivitas di kota-kota besar,” ungkap AHY saat Pencanangan Pembangunan Hunian untuk mendukung Program 3 Juta Rumah di lahan aset PT Kereta Api Indonesia di kawasan Stasiun Manggarai Jakarta, pada tanggal 17 Maret.
Pentingnya Hunian Vertikal
Menurut AHY, dengan meningkatnya jumlah penduduk yang tinggal di kawasan urban, lahan yang tersedia semakin terbatas. Oleh karena itu, pembangunan hunian vertikal dianggap sebagai pendekatan yang paling realistis untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal masyarakat. Pendekatan ini tidak hanya efektif dalam penggunaan lahan, tetapi juga memungkinkan masyarakat untuk tinggal lebih dekat dengan pusat aktivitas ekonomi.
Pembangunan hunian vertikal berbasis TOD juga berkontribusi dalam mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi. Hal ini sejalan dengan upaya untuk menciptakan sistem transportasi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Peran PT Kereta Api Indonesia dalam Pengembangan TOD
AHY memberikan apresiasi kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang memiliki aset strategis di berbagai kota besar dan berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan hunian yang terintegrasi. Salah satu proyek pengembangan yang sedang berjalan adalah di kawasan Stasiun Manggarai, yang akan dibangun di atas lahan seluas sekitar 2,2 hektare dengan dua blok pengembangan.
Rencana Pembangunan di Stasiun Manggarai
Di kawasan Stasiun Manggarai, direncanakan akan dibangun delapan tower hunian dengan total sekitar 2.200 unit yang ditujukan untuk masyarakat, termasuk bagi mereka yang berpenghasilan rendah. Ini menjadi langkah signifikan dalam memenuhi kebutuhan perumahan yang semakin mendesak di Jakarta.
Pengembangan TOD di Kota-Kota Besar Lainnya
Tidak hanya di Jakarta, pengembangan hunian berbasis TOD juga sedang dilakukan di beberapa kota besar lainnya, seperti Stasiun Kiaracondong di Bandung, kawasan Dr Kariadi di Semarang, serta Stasiun Surabaya Gubeng. Keempat kota besar di Pulau Jawa ini dipilih karena memiliki tingkat kepadatan yang tinggi dan kebutuhan hunian yang terus meningkat seiring dengan pertumbuhan aktivitas ekonomi.
Kolaborasi untuk Mewujudkan Kota Modern
AHY menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan investor dalam menciptakan model pengembangan kota modern yang terintegrasi dan berkelanjutan. Kerjasama ini menjadi kunci untuk menghadirkan solusi yang tidak hanya memenuhi kebutuhan tempat tinggal, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Melalui konsep TOD, pemerintah berupaya menciptakan sistem transportasi yang lebih efisien, mengurangi kemacetan, dan memberikan lebih banyak waktu bagi masyarakat untuk meningkatkan produktivitas. Dengan demikian, pembangunan kawasan terintegrasi ini tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga pada kualitas hidup masyarakat.
Visi Pembangunan Nasional
AHY menegaskan bahwa pengembangan kawasan terintegrasi ini juga sejalan dengan visi pembangunan nasional yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat. “Kita ingin pembangunan kita sesuai dengan visi Bapak Presiden Prabowo Subianto, tumbuh tinggi, tetapi juga berpihak pada rakyat kecil dan memperhatikan bumi serta lingkungan hidup kita. Ini adalah masa depan kita semua,” tegasnya.
Dengan pengembangan hunian TOD, diharapkan akan ada transformasi signifikan dalam cara masyarakat tinggal dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal, tetapi juga untuk menciptakan suasana kota yang lebih ramah dan berkelanjutan.
Manfaat Hunian TOD bagi Masyarakat
Pembangunan hunian berbasis TOD menawarkan berbagai manfaat bagi masyarakat, antara lain:
- Aksesibilitas yang lebih baik: Masyarakat dapat dengan mudah mengakses sarana transportasi umum, mengurangi waktu perjalanan.
- Pengurangan kemacetan: Dengan lebih banyak orang menggunakan transportasi umum, kemacetan di jalan raya dapat diminimalisir.
- Peningkatan kualitas hidup: Masyarakat dapat menikmati lingkungan yang lebih bersih dan sehat, serta lebih banyak ruang terbuka hijau.
- Efisiensi biaya: Tinggal dekat dengan tempat kerja dan fasilitas umum dapat mengurangi biaya transportasi.
- Komunitas yang terintegrasi: Hunian TOD menciptakan interaksi sosial yang lebih baik antarwarga, meningkatkan rasa kebersamaan.
Dengan berbagai manfaat yang ditawarkan, tidak diragukan lagi bahwa konsep hunian TOD akan memainkan peran penting dalam menghadapi tantangan urbanisasi dan memenuhi kebutuhan perumahan di masa depan. Melalui pendekatan ini, kita bisa berharap untuk melihat kota-kota yang lebih berkelanjutan dan inklusif.
Tantangan dan Solusi dalam Implementasi TOD
Meskipun konsep TOD menawarkan banyak keuntungan, implementasinya tidak tanpa tantangan. Beberapa masalah yang mungkin dihadapi antara lain:
- Keterbatasan lahan: Meskipun TOD dirancang untuk efisiensi penggunaan lahan, di beberapa daerah, lahan yang tersedia mungkin masih terbatas.
- Kendala regulasi: Proses perizinan yang rumit dapat menghambat pembangunan proyek TOD.
- Persepsi masyarakat: Ada kalanya masyarakat tidak memahami manfaat dari hunian vertikal, sehingga perlu adanya sosialisasi yang baik.
- Biaya pembangunan: Investasi awal yang tinggi dapat menjadi penghalang bagi pengembang untuk memulai proyek.
- Infrastruktur pendukung: Ketersediaan infrastruktur yang memadai sangat penting untuk mendukung pengembangan TOD.
Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan pendekatan yang komprehensif, termasuk kolaborasi antara berbagai pihak, peningkatan kebijakan pendukung, dan edukasi kepada masyarakat mengenai manfaat hunian TOD. Dengan upaya yang tepat, kita dapat mewujudkan kota-kota yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Kesimpulan: Menuju Kota Berkelanjutan
Pembangunan hunian berbasis TOD di kota-kota besar di Indonesia merupakan langkah maju yang penting dalam mengatasi permasalahan perumahan di tengah urbanisasi yang pesat. Dengan menciptakan hunian yang terintegrasi dengan transportasi publik, kita tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik. Ini adalah langkah strategis yang menjanjikan untuk masa depan yang lebih berkelanjutan dan inklusif bagi seluruh masyarakat.
➡️ Baca Juga: KSAD Tetapkan Target: 7.000 Jembatan Baru Siap Beroperasi Penuh Awal Tahun 2027
➡️ Baca Juga: Penyesuaian Rute Penyeberangan Bajoe-Kolaka untuk Meningkatkan Keamanan dan Kelancaran Logistik




