Lonjakan Harga Pakan Bebek Mengancam Keberlangsungan Peternak di Kuningan

Lonjakan harga pakan bebek yang terjadi sepanjang tahun 2026 telah menciptakan situasi yang mengkhawatirkan bagi peternak di Kuningan. Banyak dari mereka kini dihadapkan pada ancaman untuk menutup usaha mereka, sebuah kondisi yang berpotensi mengganggu keberlangsungan industri peternakan bebek petelur di daerah tersebut. Jika tidak ditangani dengan tepat, dampak dari kenaikan ini bisa berimbas besar pada produksi telur bebek lokal yang sudah mulai menurun.
Dampak Kenaikan Harga Pakan Bebek
Usaha ternak bebek petelur di Kuningan sangat terpengaruh oleh kenaikan harga pakan yang terus meningkat sejak awal tahun. Dari Januari hingga Oktober 2026, harga pakan bebek mengalami lonjakan yang signifikan, membuat banyak peternak merasa terdesak. Beberapa di antara mereka sudah terpaksa menghentikan operasi mereka, termasuk usaha yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di wilayah pedesaan.
Proyeksi Produksi Telur yang Menurun
Jika situasi ini dibiarkan tanpa adanya intervensi, produksi telur bebek lokal diperkirakan akan terus merosot. Hal ini jelas menjadi ancaman bagi ketahanan pangan daerah dan kesejahteraan peternak.
Kenaikan Harga Pakan yang Tajam
Seperti yang dialami oleh BUMDes Jagaraksa di Desa Karangmuncang, Kecamatan Cigandamekar, lonjakan harga pakan bebek dinilai sangat signifikan. Harga pakan yang awalnya berada di kisaran 345.000 rupiah per karung 50 kilogram pada bulan Januari, kini telah mencapai 430.000 rupiah pada pertengahan Oktober 2026. Kenaikan ini tentunya sangat membebani para peternak.
Penurunan Harga Jual Telur Bebek
Selain kenaikan harga pakan, para peternak juga menghadapi tantangan lain berupa penurunan harga jual telur bebek. Pada awal tahun, harga telur bebek mencapai 2.400 rupiah per butir, namun saat ini harga tersebut turun menjadi hanya 2.000 rupiah per butir. Penurunan ini menambah beban finansial bagi peternak yang sudah tertekan oleh biaya pakan yang terus meningkat.
Strategi Bertahan di Tengah Krisis
Dalam usaha untuk bertahan di tengah keadaan yang sulit ini, pengelola BUMDes mulai menerapkan langkah-langkah efisiensi. Mereka melakukan pengurangan jumlah tenaga kerja dan juga memangkas populasi bebek dari 700 ekor menjadi hanya 400 ekor. Hal ini berakibat langsung pada penurunan produksi telur, dari yang semula mencapai 500 butir per hari menjadi hanya 170 butir.
Harapan untuk Solusi dari Pemerintah
Direktur BUMDes Jagaraksa, Hermawan, mengungkapkan harapannya agar pemerintah dapat mencari solusi terkait dengan masalah keterjangkauan harga pakan. Aspirasi ini tidak hanya disampaikan kepada pihak eksekutif, tetapi juga direncanakan untuk disampaikan kepada legislatif, termasuk pimpinan DPRD Kabupaten Kuningan. Upaya ini diharapkan dapat mendorong adanya kebijakan yang lebih mendukung keberlangsungan usaha peternakan di daerah tersebut.
➡️ Baca Juga: Pemerintah Tetapkan WFH ASN di Hari Jumat, Ini Alasan dan Manfaatnya bagi Kinerja
➡️ Baca Juga: Hilirisasi Tahap II Dimulai, PTPN Kembangkan Industri Terintegrasi di Sei Mangkei

