Penilaian Fitch Ditegaskan Parsial, Bank Swasta Tetap Beroperasi Tanpa Gangguan

Jakarta – Penurunan outlook oleh Fitch Ratings yang hanya berfokus pada bank-bank milik negara (BUMN) tidak sepenuhnya mencerminkan risiko sistemik yang ada dalam sektor keuangan. Sebenarnya, faktor-faktor risiko fiskal dan dinamika makroekonomi suatu negara juga berdampak pada seluruh industri perbankan, baik itu bank milik negara maupun bank swasta.
Analisis Terhadap Penilaian Fitch
Kedua jenis bank tersebut beroperasi dalam kerangka regulasi yang serupa, serta menghadapi kondisi likuiditas dan lingkungan ekonomi yang sama. Oleh karena itu, tekanan yang muncul terhadap stabilitas fiskal dapat dengan mudah menjalar ke seluruh sistem perbankan. Penilaian risiko yang lebih menyeluruh sangat diperlukan agar gambaran terhadap ketahanan sektor keuangan tidak terkesan setengah hati.
Ermatry Hariani, seorang pengamat ekonomi dari Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, mengemukakan bahwa penurunan outlook Fitch terhadap empat bank BUMN tidak mencerminkan risiko sistemik yang sebenarnya. Menurutnya, risiko fiskal dan makroekonomi suatu negara pada dasarnya memengaruhi seluruh sektor perbankan, mengingat baik bank BUMN maupun bank swasta beroperasi dalam lingkungan ekonomi yang sama.
Pendapat Ermatry Hariani
“Tidak adil jika outlook bank-bank swasta tidak ikut diturunkan. Penurunan outlook bank-bank BUMN oleh Fitch Ratings menunjukkan meningkatnya risiko fiskal negara, yang dapat berdampak pada seluruh sektor perbankan, termasuk bank swasta,” jelas Ermatry dalam wawancaranya.
Ermatry juga menambahkan bahwa alasan Fitch yang menyebutkan melemahnya kapasitas pemerintah untuk memberikan dukungan seharusnya juga menjadi perhatian bagi bank swasta. Hal ini karena potensi dampaknya tidak hanya terbatas pada bank milik negara, tetapi dapat menyebar ke seluruh sistem keuangan nasional. Dengan demikian, penilaian outlook yang hanya ditujukan kepada bank BUMN dianggap tidak proporsional dalam menggambarkan risiko sektor perbankan secara keseluruhan.
Perubahan Outlook Fitch Ratings
Belum lama ini, Fitch Ratings memangkas outlook peringkat utang jangka panjang dari empat bank BUMN menjadi negatif, dari sebelumnya stabil. Tindakan ini sejalan dengan langkah serupa yang diambil terhadap outlook peringkat utang pemerintah Indonesia. Keempat bank yang terpengaruh adalah Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indo Eximbank.
Meskipun peringkat Indonesia tetap berada di level BBB, Fitch menilai bahwa kemampuan pemerintah untuk memberikan dukungan kepada bank-bank pelat merah ini dipandang berpotensi melemah. Hal ini penting, mengingat bank-bank tersebut memiliki peran sistemik yang signifikan dalam industri perbankan nasional, dengan pangsa simpanan sekitar 10-21 persen dari total deposito pada akhir tahun 2025.
Dampak Penilaian Fitch
“Oleh karena itu, perubahan outlook ini mencerminkan peningkatan risiko terkait dengan kapasitas dukungan pemerintah terhadap sektor perbankan,” demikian bunyi laporan Fitch.
Pembelajaran dari Pengalaman Internasional
Pengamat kebijakan publik dari Fitra, Badiul Hadi, menilai penurunan outlook bank-bank Himbara oleh Fitch menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi metodologi penilaian yang digunakan. Ia berpendapat bahwa dalam praktik internasional, ketika risiko sistemik atau tekanan makroekonomi meningkat, penyesuaian outlook biasanya juga menyasar bank swasta yang berada dalam ekosistem keuangan yang sama, bukan hanya bank milik negara.
“Kita bisa belajar dari pengalaman di Amerika Serikat, di mana lembaga pemeringkat juga menurunkan outlook sejumlah bank swasta setelah terjadi tekanan di sektor perbankan,” jelas Badiul.
Pentingnya Transparansi dalam Penilaian
Ia menekankan bahwa transparansi dalam dasar analisis perusahaan pemeringkat sangat penting agar tidak menimbulkan kesan penilaian yang selektif. Hal ini mengingat bank-bank Himbara seperti Mandiri, BRI, dan BNI tidak hanya berfungsi sebagai entitas komersial, tetapi juga sebagai alat kebijakan ekonomi, termasuk dalam penyaluran kredit kepada sektor UMKM dan pembiayaan proyek strategis nasional.
Pandangan dari Masyarakat Ekonomi Politik Indonesia
Senyampang dengan itu, Direktur Masyarakat Ekonomi Politik Indonesia (MEPI), Iyuk Wahyudi, juga menilai bahwa langkah Fitch Ratings yang menurunkan outlook sejumlah bank BUMN menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi penilaian. “Jika penurunan tersebut terkait dengan perubahan outlook Indonesia, maka dampaknya seharusnya berlaku pada seluruh sektor perbankan, tidak hanya bank milik negara,” ungkapnya.
Dia menganggap tindakan yang hanya menyasar bank BUMN tampak tidak adil dan berpotensi menciptakan persepsi penilaian yang kurang objektif. Iyuk menambahkan bahwa dalam praktik internasional, perubahan peringkat suatu negara biasanya berdampak pada lembaga keuangan di dalamnya. Oleh karena itu, pendekatan yang tidak konsisten dapat menimbulkan pertanyaan mengenai metodologi penilaian yang digunakan.
➡️ Baca Juga: Barcelona Tingkatkan Selisih Empat Poin di Puncak Klasemen Liga Spanyol Usai Kalahkan Athletic Club
➡️ Baca Juga: Gladi Bersih TKA 2026 Kendala Sinyal, Kemendikdasmen Sediakan Gelombang Tambahan



